Gula Merah Alternatif Gula Putih

Sangat mudah mengenali rumah warga yang memproduksi minyak klentik di Desa Kedungkamal, Grabag, Purworejo, Jawa Tengah. Tengok saja halamannya. Jika ada tumpukan kelapa atau batoknya, berarti rumah itu adalah tempat produksi minyak dari bahan kelapa ini.
Rumah Nur Hidayat PM (37) misalnya. Halaman samping rumah yang sangat luas itu dipenuhi tumpukan kelapa dan “limbah”nya, seperti batok dan sabut kelapa. Di tempat itu pula, dua karyawan wanita tampak memisahkan daging kelapa dari batoknya. Sementara Nur, duduk mengawasi di mulut pintu rumah.
Sejak harga minyak goreng membumbung, kegiatan produksi minyak klentik di rumah Nur dan puluhan perajin minyak klentik di desa tersebut makin riuh. Nyaris setiap hari Nur, yang dibantu paling tidak lima karyawan yang digaji harian, membuat minyak klentik.
Hari itu, Rabu (12/3) Nur terpaksa hanya mengolah 2 ribu kelapa. “Ada karyawan yang enggak masuk. Terpaksa produksi dikurangi,” jelasnya. Padahal, di halaman samping masih ada ribuan kelapa siap diproduksi. Mantan karyawan sebuah biro perjalanan di Jakarta ini menambahkan, sejak tiga bulan lalu, harga minyak klentik juga ikut meroket. “Dari harga Rp 8.500 per kilo, sekarang ini sudah mencapai Rp 11.500,” kata ayah seorang bocah ini.


DIPERAS DENGAN KAKI

Proses pembuatan minyak klentik di rumah Nur memang masih tradisional, manual, dan sangat sederhana. Kalau pun ada “campur tangan” mesin, hanya saat memarut kelapa. Selebihnya semua dikerjakan dengan tenaga manusia.
Setelah daging kelapa dipisahkan dari batoknya, direndam dulu semalam. Pagi harinya, barulah digiling dengan mesin. Parutan kelapa ini kemudian diambil santannya. Untuk memeras, perlu tempat khusus, yaitu jedong, begitu warga Kedungkamal menyebutnya. Jedong berupa wadah dari anyaman bambu setinggi sekitar 50 cm yang mampu menampung parutan kelapa sekitar 120 butir.
Setelah jedong diisi penuh parutan kelapa, lalu digilas dengan kaki manusia setelah sebelumnya diberi air. Santan hasil perasan mengalir ke bak penampungan melalui belahan bambu. “Proses pemerasan baru selesai setelah ampas terasa keset di kaki dan santan kelihatan bening,” papar Bambang, salah satu karyawan Nur yang sehari digaji Rp 20 ribu.
Santan itu kemudian direbus di sebuah drum berbahan bakar kayu dan sabut kelapa dengan api sedang agar tak menghasilkan kerak. Proses ini akan memisahkan air dengan minyak. Selain memisahkan air dan minyak, proses ini juga menghasilkan ampas santan yang disebut blondo yang akan mengapung bersama minyak di atas. Sementara air di bagian bawah bisa dibuang dengan cara disedot dengan selang.
Minyak itu kemudian disaring di bak khusus yang atasnya dilapisi alumunium atau seng. “Proses ini akan memisahkan minyak dengan blondo”, kata Agung, karyawan Nur yang lain. Agar proses pemerasan minyak tuntas, blondo di-pres dengan papan kayu yang ditekan dengan pengungkit balok kayu. Proses pamungkas adalah memasukkan minyak-minyak dari drum penampungan ke jeriken.

LIMBAH JADI BERKAH
Nur tak perlu repot-repot ke luar rumah untuk menjual minyak klentik hasil olahannya. Beberapa tengkulak minyak tiap sore sudah menyambangi rumahnya. “Berapapun yang ada pasti dibeli. Tak pernah ada stok di rumah,” tandas pria bertubuh kekar ini.
Tak hanya minyak klentik yang diburu para tengkulak sampai ke rumah Nur. Limbah proses pembuatan minyak pun habis diborong. Air kelapa sudah diborong Nono, tetangganya, untuk membuat sari kelapa. Batok kelapa juga bisa dijual terpisah. Sisi batok yang ada “matanya” diambil para perajin arang. Sementara sisi lainnya untuk wadah penyadapan karet yang laku Rp 50 per buah.
Limbah yang paling mahal, melebihi harga minyaknya justru blondo. Limbah yang rasanya gurih dan manis ini, menurut Agung, bisa laku Rp 18 ribu per kilo. “Limbah ini diambil oleh para pengusaha jenang atau dodol dari Magelang.” Ampas kelapa pun laku. “Ada yang dipakai untuk proses pembuatan jamur. Ada juga sebagai campuran pakan babi,” lanjut Agung. Saat ini pihaknya menjual per karung Rp 7.500.

BISA DIMURNIKAN LAGI
Meskipun harga minyak klentik naik dan semua limbah bisa jadi duit, bukan berarti Nur panen. “Tak ada pedagang yang bodoh,” kata Nur sambil tersenyum. Maksudnya, ketika tahu harga minyak klentik naik, harga kelapa pun ikut-ikutan naik.
Nur memberi ilustrasi, untuk menghasilkan sekilo minyak, perlu paling tidak 14 kelapa yang harganya Rp 1.000 per buah. “Jadi, hitungannya saya masih rugi, kan, kalau minyak yang dihasilkan hanya laku Rp 11.500 per kilo.” Nah, kerugian itu ditutup dengan penjualan blondo, ampas, air kelapa, dan batok. “Kalau tidak, mana bisa saya menggaji para karyawan dan beli solar.”
Sebenarnya, lanjut suami dari Kartini ini ada satu cara meningkatkan harga jual minyak produksinya, yaitu dengan cara pemurnian di pabrik. “Hasilnya akan lebih jernih dan harganya bisa setara dengan minyak curah dari kopra. Penyusutan proses ini hanya sekitar 5 persen,” kata Nur yang pernah mencoba memasak lagi minyak hasil olahannya agar lebih bening. “Kalau dimasak secara manual, penyusutannya malah hanya 1 persen.”
Tapi, langkah ini terhenti lantaran proses jadi lebih panjang dan ia belum menemukan tengkulak minyak yang mau membeli minyak klentik yang lebih jernih dengan harga lebih tinggi. “Biarlah itu jadi rezeki orang lain,” kata Nur yang sudah lima tahun membuat minyak klentik.

YUK, MEMBUAT SENDIRI

1. Kelapa diparut lalu diperas dengan air dan diambil santannya.
2. Santan dimasak di wajan dengan api sedang.
3. Proses ini akan memisahkan minyak, blondo (di atas) dan air di bawah. Jika proses ini dilakukan terus-menerus, maka air akan menguap dan hilang dengan sendirinya. Hanya saja, proses ini akan mengurangi minyak yang dihasilkan karena akan lebih banyak menyerap ke blondo.
4. Proses berikutnya, menyaring dengan kain. Blondo yang dihasilkan bisa menjadi teman makan singkong, sementara minyak klentik untuk kebutuhan sehari-hari. Minyak klentik olahan sendiri ini baru akan bau tengik setelah 30 hari.

Sumber tabloid nova

KAMI MITRA USAHA TANI
Menjual KELAPA TUA, ARANG BATOK, GULA MERAH KELAPA dan MINYAK KELAPA /KLENTIK.

KELAPA TUA dengan kapasitas 10.000 buah perhari kualitas terjamin dan harga bisa nego.

Menjual KELAPA TUA asal Tasik, Pandeglang dan Lampung. Harga Rp. 2.100 / butir (grade ABC tanpa Sortir) for JaDebotabek Min Order 1 truk (6000 truk).
Kapasitas 10.000 buah perhari kualitas terjamin.
Spek :
KELAPA TUA, berwarna kuning keemasan, belum tumbuh tunas, dll.

Kami juga memproduksi ARANG BATOK dengan jumlah 5 ton/ bulan bisa lebih ( sesuai permintaan)
Harga 3000/ kg, sampai di jabodetabek.

Kami menjual pula GULA MERAH KELAPA dalam ukuran ½ Batok, Harga 9.500 /kg minimal 5 ton for JaDebotabek. Gula diproduksi wilayah Jawa Barat.

MINYAK KELAPA/KLENTIK, Harga 12.500,-/kg minimal order 2 ton. Kami memproduksi MINYAK KELAPA/KLENTIK 3-5 ton/minggu di daerah Tasik. Harga sudah termasuk transportasi untuk daerah Jadebotabek.

Pembayaran Cash
Hub. Whayudha
Tlp / Hp ; 02191099503 / 085692168278
Email ; why.jaya@gmail.com

Salam Argo,
Whayudha K. W., S. Hum.
Kami Membangun Dengan Kepercayaan dan Melayani Sepenuh Hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s