Moralitas dan manuver politikus

Oleh Whayudha Kusuma Wijaya

Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

 

Politikus mempunyai nama lain yaitu politisi. Politikus sendiri berasal dari bahasa Inggris, “Politican” yang mempunyai arti “pelaku politik”, yaitu orang-orang yang teribat secara langsung dalam kegiatan politik praktis, seperti orang-orang yang duduk dalam pemerintahan, para pejabat, pengurus / aktivis partai , dsb. Politisi juga mempunyai  makna bahwa politisi merupakan orang-orang yang bercita-cita untuk dan atau memegang kekuasaan dalam mencapai tujuan akhir yang luhur.

Tujuan akhir ini yang menjadi tujuan dan harapan bangsa Indonesia, yaitu kesejahteraan dan keadilan bangsa Indonesia. Namun belakangan semakin maraknya kasus yang dialami politisi Indonesia. Makin banyaknya kasus tersebut makin membuktikan Dekadensi Moral kalangan politisi. Kasus tersebut diperlihatkan dengan munculnya kasus korupsi kolektif anggota DPR, bahkan yang membuat semakin miris adalah kasus pelecehan anggota legislatif. Ditambah lagi dengan sebagian dari mereka tidak lagi memikirkan kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi lebih mengedepankan kepentingan partai bahkan pribadi.

 

Penurunan konsituen pemilih

Disaat permasalahan para politisi semakin marak, suasana politik semakin memanas momentum tersebut adalah pemilu 2009. Dengan adanya pemilihan umum 2009 paling tidak rakyat Indonesia masih memiliki harapan akan perubahan bagi Negara Indonesia yang kaya ini tapi terjajah di negeri sendiri. Rakyat yang sudah pusing memikirkan hidupnya di tambah dengan kondisi para wakil yang telah dipilih lebih cenderung egosentris kekuasaan. 

Kecenderungan rakyat mengalami dekadensi partisipatif dibuktikan dengan hasil jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia (2008) yang menyebutkan bahwa kepercayaan publik terhadap partai politik semakin rendah. Parpol dinilai hanya berpikir pragmatis, opportunis, dan ingin menunjukkan sentralisme kekuasaan.Dampaknya, demokrasi hanya diukur secara seremonial pemilu.

Selain itu, golongan putih (golput) menunjukkan fenomena yang sangat tinggi, hal ini memperlihatan bahwa sudah saatnya parpol introspeksi diri. Artinya, kendaraan politik saat ini bukan hanya sekedar mencari kekuasaan, akan tetapi mmbuktikan kepada rakyat untuk mensejahterakan rakyat. Memang hal ini masih utopis bila melihat konstelasi perpolitikan Indonesia.

 

Manuver politik

Dengan adanya pemilihan umum dan presiden 2009 mendatang ini, konstelasi perpolitikan Indonesia memang semakin meningkat, apa pun bentuknya. Salah satunya adalah manuver politisi yang semakin gencar menyebarkan janji dan tindakan konkret yang akan dilakukan.  Janji-janji dan tindakan konkret merupakan senjata ampuh bagi para politisi dalam melakukan gebrakan yang bertujuan untuk mendapatkan lumbung suara sehingga mencapai kekuasaan.

Bila hal itu terjadi, bukanlah suatu keanehan dalam politik, melainkan merupakan tindakan yang memungkinkan bangkitnya kesadaran politik rakyat, walaupun kesadaran ini bersifat Utopis dalam membentuk kesadaran bangsa Indonesia dalam berpolitik. Realita yang ada seringkali maneuver bukan untuk dicintai banyak orang, melainkan sekedar pencarian popularitas dari masyarakat. Dalam politik itu sah adanya dan dianggap sangat realistik dalam upaya memangkan pertarungan sekaligus mewujudkan cita-cita mencapai kekuasaan yang banyak diidamkan semua orang.

Selain itu manuver bergunanya untuk menciptakan suara mayoritas, dengan cara menyampaikan anjuran yang sejujur-jujurnya, agar rakyat memilih dengan benar pada waktu yang tepat. Memperbaiki kondisi bangsa Indonesia merupakan Kerangka berpikir yang perlu dibentuk sebagai langkah politik yang perlu dilakukan. Kerangka berpikir tersebut dan komitmen untuk menjalankan patut kita pandang baik dan positif.

Namun  lompatan-lompatan politik yang memperlihatkan penggunaan segala cara dalam mecaai kkeuasaan, sudah pasti akan muncul stigma dan opini kurang baik oleh rakyat Indonesia. Bila menilai konsituen pemilih sekarang ini, justru dengan ucapan para politisi mereka sudah sangat sensitive. Sehingga konsituen pemilih akan menangkap pesan ataupun janji sekecil apapun yang disampaikan.

Oleh karena itu, para calon presiden dan calon wakil presiden bukan hanya seedar melakukan manuver politik yang bertujuan untuk mendapatkan suara mayoritas. Akan tetapi membuktikan strategi yang tepat yang dapat mengubah paradigma masyarakat terhadap kualitas dan kapasitas calon presiden dan wakil presiden. Apalagi dengan momentum pemilihan umum yang sebentar lagi digelar. Rakyat Indonesia memberikan harapan besar kepada pemilu 2008 dengan keinginan perubahan bangsa Indonesia untuk adil dan sejahtera.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s