Kerajaan Buton

Abstrak

Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis : 1). Pembentukan Kerajaan Buton, 2). Masuknya islam di kerajaan Buton, 3) Peninggalan dan pengaruh Kesultanan Buton dalam berbagai aspek. Di dalam penulisan makalah ini dari sumber yang didapatkan, penulisan mendapatkan penegtahuan tentang Buton. 1). Buton merupakan kepulauan yang berbentuk kerajaan yang didirikan oleh Mia Patamiana (empat orang) dari semenanjung Malaya. Keturunan mereka menjadi penguasa di Buton. Dalam perjalannya Buton menjadi kesultanan (negara islam) karena peran ulama Syeikh Abdul Wahid yang berasal dari Johor. Sultan pertama dari Kesultanan Buton adalah Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis. Berkat beliaulah Buton menjadi kesultanan beserta pengikut dan rakyatnya. selain itu, kesultanan Buton kaya akan peninggalan-peninggalan. Hal terbukti sampai sekarang, bahwa peninggalan kesultanan Buton masih bisa kita jumpai sampai sekarang.

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

1.2. Ruang Lingkup Masalah

1.3. Tujuan Penulisan

Bab II Kerajaan Buton

2.1. Pembentukan kerajaan Buton

2.2. Masuknya Islam di Kerajaan Buton

Bab III Perkembangan dan Peninggalan Kesultanan Buton

3.1. Politik dan hukum

3.2. Sosial, Ekonomi dan Budaya

3.3. Peninggalan dan Pengaruh

Bab IV Kesimpulan dan Saran

4.1. Kesimpulan

4.2. Saran

Daftar Pustaka

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah

Perdagangan dan pelayaran di bumi Nusantara pernah menjadi alat vital dalam kemajuan kerajaan Indonesia. Wilayah Indonesia termasuk wilayah yang strategis dalam jalur perdagangan internasional. Kondisi ini menyebabkan wilayah nusantara yang berupa pelabuhan menjadi kerajaan maritim yang besar. Selain menjadi kerajaan maritim besar ternyata masuknya islam ke nusantara memberikan pengaruh yang besar bagi nusantara.

Islam masuk ke nusantara karena sebagian besar diterima baik oleh penduduk setempat, bahkan seorang raja (elite). Sehingga pada abad pertengahan di nusantara menjadi “zaman baru sejarah Indonesia”. Kondisi ini disebabkan oleh perubahan besar, dimana kerajaan di nusantara, mayoritas Hindhu-Budha mulai beralih kepada islam menjadi kesultanan.

Banyak peninggalan yang telah diberikan oleh kesultanan nusantara dalam berbagai aspek. Akan tetapi, kebanyakan peninggalan yang telah dikaji ataupun diadakan penelitian belum menyeluruh, kebanyakan bersifat Jawa sentris. Padahal masih banyak kajian dan sumber sejarah yang belum dikaji. Salah satu diantaranya adalah kesultanan Buton. Kesultanan tersebut “terisolir” dari kesultanan-kesultanan lainnya di Nusantara. Sehingga Penulis mengambil tema mengenai “Kesultanan Buton” karena banyak informasi dan pengetahuan yang belum digali, walaupun ada sifatnya minimalis.

1.2. Ruang Lingkup

Dalam mengambil tema “kesultanan Buton” , penulis membatasi permasalahan dalam cakupan sekitar masa awal kesultanan Buton disertai pengaruh yang diberikan. Hal ini disebabkan besar keinginan penulis untuk mendapatkan informasi

Ruang lingkup permasalahan yang menjadi kajian dalam makalah ini, lebih banyak menjelaskan sekitar masa awal kesultanan Buton disertai peninggalan dan pengaruh yang diberikan.

1.3. Tujuan Penulisan

Penulis mengambil tema mengenai “Kesultanan Buton’ mempunyai tujuan untuk mengetahui dan menganalisis, :

a. Pembentukan Kerajaan Buton.

b. Masuknya islam di kerajaan Buton.

c. Peninggalan dan pengaruh Kesultanan Buton dalam berbagai aspek.

Kerajaan Buton

2.1. Pembentukan kerajaan Buton

Salah satu sumber yang menerangkan kerajaan Buton terdapat dalam Negara Kertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 M. Dalam naskah kuno itu, negeri Buton disebut dengan nama Butuni. Butuni merupakan sebuah desa tempat tinggal para resi (pendeta) yang dilengkapi taman, lingga dan saluran air. Rajanya bergelar Yang Mulia Mahaguru. Dalam sejarahnya, cikal bakal Buton sebagai negeri telah dirintis oleh empat orang yang disebut dengan Mia Patamiana. Mereka adalah: Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo, Sijawangkati. Menurut sumber sejarah lisan Buton, empat orang pendiri negeri ini berasal dari Semenanjung Melayu yang datang ke Buton pada akhir abad ke-13 M.
Empat orang (Mia Patamiana) tersebut terbagi dalam dua kelompok,yakni : Sipanjongan dan Sijawangkati, sedangkan lainnya Simalui dan Sitamanajo. Kelompok pertama beserta para pengikutnya menguasai daerah Gundu-Gundu, sementara kelompok kedua dengan para pengikutnya menguasai daerah Barangkatopa. Sipanjongan dan para pengikutnya meninggalkan tanah asal di Semenanjung Melayu menuju kawasan timur dengan menggunakan sebuah perahu yang di beri nama LAKULEBA pada bulan Syaban 634 Hijriyah (1236 M). Dalam perjalanan itu, mereka singgah pertama kalinya di pulau Malalang, terus ke Kalaotoa dan akhirnya sampai di Buton, mendarat di daerah Kalampa. Kemudian mereka mengibarkan bendera Kerajaan Melayu yang disebut bendera Longa-Longa.
Ketika Buton berdiri, bendera Longa-Longa ini dipakai sebagai bendera resmi di kerajaanButon.
Sementara itu Simalui dan para pengikutnya mendarat di Teluk Bumbu, kemudian masuk dalam daerah Wakarumba. Pola hidup mereka berpindah-pindah hingga akhirnya berjumpa dengan kelompok Sipanjonga. Karena pertempuran tersebut, terjadi percampuran melalui perkawinan. Sipanjonga menikah dengan Sibaana, saudara Simalui dan memiliki seorang putera yang bernama Betoambari. Setelah dewasa, Betoambari menikah dengan Wasigirina, putri Raja Kamaru. Dari perkawinan ini, kemudian lahir seorang anak bernama Sangariarana. Seiring perjalanan, Betoambari kemudian menjadi penguasa daerah Peropa, dan Sangariarana menguasai daerah Baluwu. Dengan terbentuknya desa Peropa dan Baluwu, berarti telah ada empat desa yang memiliki ikatan kekerabatan, yaitu: Gundu-Gundu, Barangkatopa, Peropa dan Baluwu. Keempat desa ini kemudian disebut Empat Limbo, dan para pimpinannya disebut Bonto. Kesatuan keempat pemimpin desa (Bonto) ini disebut Patalimbona. Mereka inilah yang berwenang memilih dan mengangkat seorang yang akan menjadi Raja di kerajaan Buton berada.
Selain empat Limbo di atas, di pulau Buton juga telah berdiri beberapa kerajaan kecil yaitu: Tobe-Tobe, Kamaru, Wabula, Todanga dan Batauga. Dalam perjalanannya, kerajaan-kerajaan kecil dan empat Limbo di atas kemudian bergabung dan membentuk sebuah kerajaan baru, dengan nama kerajaan Buton. Pada saat itu, kerajaan tersebut memilih seorang wanita yang bernama Wa Kaa Kaa sebagai raja. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1332 M. Berkaitan dengan asal-usul nama Buton, menurut tradisi lokal berasal dari Butuni, sejenis pohon beringin (barringtonia asiatica). Penduduk setempat menerima penyebutan ini sebagai tanda dari para pelaut nusantara yang sering singgah di pulau itu. Namun dari sebuah kitab sejarah yang berjudul Assajaru Huliqa Daarul Bathniy Wadaarul Munajat (Hakikat Asal kejadian Negeri Buton Dan Negeri Muna) nama BUTUNI berasal dari perkataan BATHNIY kata Arab bathni atau bathin, yang berarti perut atau kandungan. Menurut perkiraan, nama ini telah ada sebelum Majapahit datang menaklukkannya. Dalam surat-menyurat, kerajaan ini menyebut dirinya Butuni, orang Bugis menyebutnya Butung, dan Belanda menyebutnya Buton. Selain itu, dalam arsip Belanda, negeri ini juga dicatat dengan nama Butong (Bouthong).


2.2.
Masuknya Islam di Kerajaan Buton

Dengan Wa Kaa Kaa sebagai raja, Kerajaan Buton semakin berkembang hingga Islam masuk ke Buton melalui Ternate pada pertengahan abad ke-16 M. Selama masa pra Islam, di Buton telah berkuasa enam orang raja, dua di antaranya perempuan. Perubahan Buton menjadi kesultanan terjadi pada tahun 1542 M (948 H), bersamaan dengan pelantikan Lakilaponto sebagai Sultan Buton pertama, dengan gelar Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis. Setelah Raja Lakilaponto masuk Islam, kerajaan Buton semakin berkembang dan mencapai masa kejayaan pada abad ke 17 M. Ikatan kerajaan dengan agama Islam sangat erat, terutama dengan unsur-unsur sufistik.

Kerajaan Buton secara resminya menjadi sebuah kerajaan Islam pada masa pemerintahan Raja Buton ke-6, yaitu Timbang Timbangan atau Lakilapoto atau Halu Oleo. Beliau yang diislamkan oleh Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani yang datang dari Johor. Menurut beberapa riwayat bahwa Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani sebelum sampai di Buton pernah tinggal di Johor. Selanjutnya bersama isterinya pindah ke Adonara (Nusa Tenggara Timur). Kemudian beliau sekeluarga berhijrah pula ke Pulau Batu Gatas yang termasuk dalam pemerintahan Buton.

Di Pulau Batu Gatas, Buton, Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani bertemu Imam Pasai yang kembali dari Maluku menuju Pasai (Aceh). Imam Pasai menganjurkan Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani pergi ke Pulau Buton, menghadap Raja Buton. Syeikh Abdul Wahid setuju dengan anjuran yang baik itu. Setelah Raja Buton memeluk Islam, Beliau langsung dilantik menjadi Sultan Buton oleh Syeikh Abdul Wahid pada tahun 948 H/1538 M. Walau bagaimanapun mengenai tahun tersebut, masih dipertikaikan karena sumber yang lain disebutkan bahwa Syeikh Abdul Wahid merantau dari Patani-Johor ke Buton pada tahun 1564 M. Sultan Halu Oleo dianggap sebagai Sultan Kerajaan Islam Buton pertama, bergelar Sultan atau Ulil Amri dan menggunakan gelar yang khusus yaitu Sultan Kaimuddin yang artinya Penguasa Pendiri Agama Islam. Dalam riwayat yang lain menyebut bahwa yang melantik Sultan Buton yang pertama memeluk Islam, bukan Syeikh Abdul Wahid tetapi guru beliau yang sengaja didatangkan dari Patani. Raja Halu Oleo setelah dilantik sebagai Sultan Kerajaan Islam Buton pertama, dinamakan Sultan Murhum.

Ketika diadakan Simposium Nusantara Internasional IV, 18 – 20 Juli 2000 di Pekan Baru, Riau, salah satu kertas kerja membicarakan beberapa aspek tentang Buton, yang diuraikan oleh La Niampe, yang berasal dari Buton. Menurutnya islam di Buton melalui :

1. Syeikh Abdul Wahid pertama kali sampai di Buton pada tahun 933 H/1526 M.

2. Syeikh Abdul Wahid sampai ke Buton kali kedua pada tahun 948 H/1541 M.

3. Kedatangan Syeikh Abdul Wahid yang kedua di Buton pada tahun 948 H/1541 M bersama guru beliau yang bergelar Imam Fathani. Ketika itulah terjadi pengislaman beramai-ramai dalam lingkungan Istana Kesultanan Buton dan sekaligus melantik Sultan Murhum sebagai Sultan Buton pertama.

Pendapat lainnya, kertas kerja Susanto Zuhdi berjudul Kabanti Kanturuna Mohelana Sebagai Sumber Sejarah Buton, menyebut bahwa Sultan Murhum, Sultan Buton yang pertama memerintah dalam lingkungan tahun 1491 M – 1537 M. Di dalam bukunya, Membangun dan Menghidupkan Kembali Falsafah Islam Hakiki Dalam Lembaga Kitabullah, bahwa “Kesultanan Buton menegakkan syariat Islam pada tahun 1538 Masehi. Jika kita bandingkan tahun yang sebutkan diatas (1564 M), dengan tahun yang disebutkan oleh La Niampe (948 H/1541 M) dan tahun yang disebutkan oleh Susanto Zuhdi (1537 M), berarti dalam tahun 948 H/1541 M dan tahun 1564 M, Sultan Murhum tidak menjadi Sultan Buton lagi karena masa beliau telah berakhir pada tahun 1537 M. Setelah meninjau berbagai aspek, nampaknya kedatangan Syeikh Abdul Wahid di Buton dua kali (tahun 933 H/1526 M dan tahun 948 H/1541 M) yang diberikan oleh La Niampe adalah lebih meyakinkan.

Kesultanan Buton

3.1. Politik dan hukum

Berikut ini daftar raja dan sultan yang pernah berkuasa di Buton. Gelar raja menunjukkan periode pra Islam, sementara gelar sultan menunjukkan periode Islam.


Raja-raja:
1. Rajaputri Wa Kaa Kaa
2. Rajaputri Bulawambona
3. Raja Bataraguru
4. Raja Tuarade
5. Rajamulae
6. Raja Murhum


Sultan-sultan:
1. Sultan Murhum (1491-1537 M)
2. Sultan La Tumparasi (1545-1552)
3. Sultan La Sangaji (1566-1570 M)
4. Sultan La Elangi (1578-1615 M)
5. Sultan La Balawo (1617-1619)
6.
Sultan La Buke (1632-1645)
7. Sultan La Saparagau (1645-1646 M)
8. Sultan La Cila (1647-1654 M)
9. Sultan La Awu (1654-1664 M)
10. Sultan La Simbata (1664-1669 M)
11. Sultan La Tangkaraja (1669-1680 M)
12. Sultan La Tumpamana (1680-1689 M)
13. Sultan La Umati (1689-1697 M)
14. Sultan La Dini (1697-1702 M)
15. Sultan La Rabaenga (1702 M)
16. Sultan La Sadaha (1702-1709 M)
17. Sultan La Ibi (1709-1711 M)
18.
Sultan La Tumparasi (1711-1712M)
19. Sultan Langkariri (1712-1750 M)
20. Sultan La Karambau (1750-1752 M)
21. Sultan Hamim (1752-1759 M)
22. Sultan La Seha (1759-1760 M)
23. Sultan La Karambau (1760-1763 M)
24. Sultan La Jampi (1763-1788 M)
25. Sultan La Masalalamu (1788-1791 M)
26. Sultan La Kopuru (1791-1799 M)
27.
Sultan La Badaru (1799-1823 M)
28. Sultan La Dani (1823-1824 M)
29. Sultan Muh.
Idrus (1824-1851 M)
30. Sultan Muh. Isa (1851-1861 M)
31. Sultan Muh. Salihi (1871-1886 M)
32. Sultan Muh. Umar (1886-1906 M)
33. Sultan Muh. Asikin (1906-1911 M)
34. Sultan Muh. Husain (1914 M)
35. Sultan Muh. Ali (1918-1921 M)
36. Sultan Muh. Saifu (1922-1924 M)
37. Sultan Muh. Hamidi (1928-1937 M)
38. Sultan Muh. Falihi (1937-1960 M).

Era pra Islam Kerajaan Buton berlangsung dari tahun 1332 hingga 1542 M. Selama rentang waktu ini, Buton diperintah oleh enam orang raja. Sementara periode Islam berlangsung dari tahun 1542 hingga 1960 M. Selama rentang waktu ini, telah berkuasa 38 orang raja. Sultan terakhir yang berkuasa di Buton adalah Muhammad Falihi Kaimuddin. Kekuasaannya berakhir pada tahun 1960 M. Kekuasaan Kerajaan Buton meliputi seluruh Pulau Buton dan beberapa pulau yang terdapat di Sulawesi.

Kehidupan di bidang hukum berjalan denga baik tanpa diskriminasi. Siapapun yang bersalah, dari rakyat jelata hingga sultan akan menerima hukuman. Sebagai bukti, dari 38 orang sultan yang pernah berkuasa di Buton, 12 di antaranya mendapat hukuman karena melanggar sumpah jabatan. Satu di antaranya, yaitu Sultan ke-8, Mardan Ali (La Cila) dihukum mati dengan cara dililit lehernya dengan tali sampai mati.

3.2. Sosial, Ekonomi dan Budaya

Sebagai kerajaan Islam yang tumbuh dari hasil transmisi ajaran Islam di Nusantara, maka kerajaan Buton juga sangat dipengaruhi oleh model kebudayaan Islam yang berkembang di Nusantara, terutama dari tradisi tulis-menulis. Bahkan, dari peninggalan tertulis yang ada, naskah peninggalan Buton jauh lebih banyak dibanding naskah Ternate, negeri dimana Islam di Buton berasal. Peninggalan naskah Buton sangat berarti untuk mengungkap sejarah negeri ini, dan dari segi lain, keberadaan naskah-naskah ini menunjukkan bahwa kebudayaan Buton telah berkembang dengan baik. Naskah-naskah tersebut mencakup bidang hukum, sejarah, silsilah, upacara dan adat, obat-obatan, primbon, bahasa dan hikayat yang ditulis dalam huruf Arab, Buri Wolio dan Jawi. Bahasa yang digunakan adalah Arab, Melayu dan Wolio. Selain itu, juga terdapat naskah yang berisi surat menyurat antara Sultan Buton dengan VOC Belanda.

Secara umum, ada empat prinsip yang dipegang teguh oleh masyarakat Buton yang digunakan kehidupan sehari-hari, sehingga mudah terlihat dalam pandangan kita, yakni:
1.Yinda Yindamo Arata somanamo Karo (Harta rela dikorbankan demi keselamatan diri)
2.Yinda Yindamo Karo somanamo Lipu (Diri rela dikorbankan demi keselamatan negeri)
3.Yinda Yindamo Lipu somanamo Sara (Negeri rela dikorbankan demi keselamatan pemerintah)
4.Yinda Yindamo Sara somanamo Agama (Pemerintah rela dikorbankan demi keselamatan agama)

Dalam bidang ekonomi, kehidupan berjalan dengan baik berkat relasi perdagangan dengan negeri sekitarnya. Dalam negeri Buton sendiri, telah berkembang suatu sistem perpajakan sebagai sumber pendapatan kerajaan. Jabatan yang berwenang memungut pajak di daerah kecil adalah tunggu weti. Dalam perkembangannya, kemudian tejadi perubahan, dan jabatan ini ditingkatkan statusnya menjadi Bonto Ogena. Dengan perubahan ini, maka Bonto Ogena tidak hanya berwenang dalam urusan perpajakan, tapi juga sebagai kepala Siolimbona (lembaga legislatif saat itu). Sebagai alat tukar dalam aktifitas ekonomi, Buton telah memiliki mata uang yang disebut Kampua. Panjang Kampua adalah 17,5 cm, dan lebarnya 8 cm, terbuat dari kapas, dipintal menjadi benang kemudian ditenun menjadi kain secara tradisional.

3.1. Peninggalan dan Pengaruh Kesultanan Buton

Buton adalah sebuah negeri yang berbentuk pulau dengan letak strategis di jalur pelayaran yang menghubungkan pulau-pulau penghasil rempah di kawasan timur, dengan para pedagang yang berasal dari kawasan barat Nusantara. Karena posisinya ini, Buton sangat rawan terhadap ancaman eksternal, baik dari bajak laut maupun kerajaan asing yang ingin menaklukkannya. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, maka kemudian dibentuk sistem pertahanan yang berlapis-lapis. Lapis pertama ditangani oleh empat Barata, yaitu Wuna, Tiworo, Kulisusu dan Kaledupa. Lapis kedua ditangani oleh empat Matana Sorumba, yaitu Wabula, Lapandewa, Watumotobe dan Mawasangka, sementara lapis ketiga ditangani oleh empat orang Bhisa Patamiana (pertahanan kebatinan).

Peninggalan Kerajaan Buton di masa lalu antara lain benteng keraton yang berlokasi di Wolio itu. Benteng keraton tersebut berbentuk huruf dhal dalam alpabet Arab. Konon, huruf dhal diambil dari huruf terakhir nama Nabi Muhammad. Panjang keliling Benteng Keraton Buton adalah tiga kilometer dengan tinggi rata-rata empat meter dan tebal dua meter. Sedangkan luas seluruh lokasi benteng meliputi 40.911 meter persegi. Benteng berbentuk huruf ‘dal’ dalam aksara Arab ini, disusun dari batu kapur dan pasir. Benteng ini dilengkapi dua belas pintu masuk dan enam belas kubu pertahanan. Banyaknya meriam yang ditempatkan di tiap sisi benteng, menunjukkan masa Kesultanan Buton tidaklah mudah. Ada musuh, ada tamu asing, dan juga ada kerajaan tetangga, yang setiap saat datang sebagai lawan. Di dalam benteng terdapat antara lain batu tempat pijakan kaki kanan raja-raja Buton saat mengucapkan sumpah jabatan, Masjid Agung yang dibangun tahun 1712.

Setelah dua sampai tiga abad berbentuk kerajaan, Buton menjadi kesultanan (pemerintahan Islam) di zaman pemerintahan Sultan Kaimuddin (1542-1568). Sultan ini telah menciptakan filosofi masyarakat Buton dalam kehidupan bernegara yang salah satu butirnya berbunyi, Bolimo karo somanamo lipu (setiap individu harus mengalah demi kepentingan nasional).

Dalam komplek keraton, kediaman sultan tampak jauh lebih sederhana dibanding dengan istana raja-raja di tanah lain. Rumah panggung yang pernah didiami sejumlah sultan dari era yang berbeda, masih tersisa hingga kini. Rumah-rumah itu disebut kamali atau malige. Didalamnya, berbagai benda bersejarah juga masih disimpan, seperti bendera kerajaan yang pernah berkibar megah ratusan tahun lalu. Kesederhanaan ini seperti cermin dari iklim demokrasi yang telah tercipta di Kesultanan Buton, jauh sebelum Indonesia lahir. Meski ada tiga golongan yang berbeda tugas, Sultan Buton tidak selalu diangkat dari keturunan sebelumnya, melainkan tergantung pada rapat anggota dewan legislatif yang berada di tangan golongan Walaka. Beberapa sultan konon dicopot dan dihukum karena di nilai melakukan pelanggaran.

Nuansa Islami amat lekat dengan Kesultanan Buton. Di dalam setiap pengangkatan sultan baru, ada sejumlah ritual yang telah menjadi tradisi. Ada sebuah batu berbentuk tonggak tempat menyimpan air, yang akan dipakai mandi sang calon sultan, sebelum diambil sumpahnya di Masjid Agung dalam kompleks keraton. Sehabis diambil sumpahnya, sang sultan baru dibawa ke batu pengangkatan. Diatas batu yang menyerupai alat kelamin perempuan ini, sang sultan di upacarai seolah-olah baru terlahir kembali. Bentuk batu ini mengingatkan pada lingga yoni, dalam konsep ajaran Hindu.

Masjid Agung keraton. Bangunan segi empat berbentuk tumpeng ini, didirikan pada awal abad delapan belas, pada masa pemerintahan Sultan Sakiuddin Durul Alam. Meski menjadi bagian dari kompleks keraton dalam Kesultanan Buton, wujud bangunan ini tetap terlihat sederhana. Namun sebaliknya, setiap komponen bangunan masjid ini penuh dengan simbol yang kaya akan makna.

Kesimpulan dan Saran

4.1. Kesimpulan

Buton adalah sebuah pulau yang pernah menjadi menorehkan tinta sejarah di bumi nusantara. Namun seringkali dalam sejarah Indonesia, sejarah kerajaan ataupun kesultanan Buton tidak dimasukkan ke dalam ruang lingkup sejarah nasional. Sejarah Buton seringkali terlepas dari rangkaian sejarah di nusantara. Padahal dalam perlayara dan perdagangan di nusantara, Buton memainkan peran vital.

Terbentuknya kerajaan Buton tidak terlepas dari peran Mia Patamiana (empat orang) yang berasal dari Semenanjung Malaya abad ke-XIII. Keturunan Mia Patamiana menjadi raja dan bangsawan, dengan raja pertamanya Wa Kaa Kaa seorang perempuan.

Adanya interaksi dengan pelayaran dan perdagangan di nusantara membuat pengaruh terhadap kerajaan Buton. Buton menjadi kesultanan karena peran dan pengaruh dari seorang ulama Syeikh Abdul Wahid yang berasal dari Johor. Sultan pertama dari kesultanan Buton adalah Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis. Beliaulah yang berperan besar terhadap pengislaman kerajaan Buton. Perubahan yang terjadi ternyata berpengruh besar terhadap seluruh aspek kenegaraan Buton. Hal ini terlihat dari Pengaruh dan peninggalan yang banyak diberikan oleh kesultanan Buton. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian lebih dalam untuk menggali sumber-sumber dan data.

4.2. Saran

Kesultanan Buton merupakan kesultanan yang pernah ada di bumi nusantara. Akan tetapi, penelitian dan pengkajian mengenai Buton masih tergolong sedikit. Padahal Buton memberikan sumber-sumber tertulis yang cukup banyak dibandingkan dengan Ternate. Apalagi masih adanya anggapan bahwa kesultanan Buton bukanlah bagian dari kesultanan Nusantara yang telah menggoreskan tinta sejarah.

Oleh sebab itu, ini adalah tugas besar dari para sejarahwan untuk tetap menjaga dan melestarikan budaya kesultanan Buton. Apalagi dengan peninggalan yang diberikan Kesultanan Buton masih tergolong banyak, bahkan menjadi tempat wisata setempat.

Daftar Pustaka

Yusuf, Mundzirin dkk. Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. Yogyakarta : Penerbit Pustaka. 2006.

Yunus, Abdurrahman Rohim. Posisi Tasawuf Dalam Sistem Kekuasaan di Kesultanan Buton Pada Abad ke-IX. Jakarta : INIS. 1995.

Zuhdi, Susanto. Kerajaan Tradisional Sulawesi Selatan Kesultanan Buton. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996.

Indas, Yamin. Kompas. Kota Otonom Baubau, Sulawesi Tenggara, Harus Segera Memacu Pembangunan. 18/10/01.

Indas, Yamin. Kompas. Tak Ada Lagi Mutiara di Pulau Makassar. 08/09/07.

About these ads

2 gagasan untuk “Kerajaan Buton

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s